Tanggung jawab adalah kewajiban seseorang untuk menanggung segala sesuatu apa yang telah ia lakukan baik secara sengaja ataupun yang tidak ia sengaja. Selain itu, tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Setiap manusia memiliki tanggung jawab nya masing-masing walaupun dalam kadar yang berbeda-beda. Misalnya, orang tua kita memiliki tanggung jawab untuk mengurus kita dari kecil dan menyekolahkan kita. Kedua orang tua kita juga memiliki tanggung jawab masing-masing. Ayah memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk keluarganya karena dia harus banting tulang untuk menafkahi keluarganya. Ibu memiliki tangung jawab untuk menyediakan makanan setiap hari. Tetapi ada juga seorang ibu yang banting-tulang untuk menafkahi keluarganya. Sebagai anak pun memiliki tanggung jawab tersendiri dalam keluarga.
Tanggung jawab seseorang berbeda-beda tergantung tempat dan waktu. Tanggung jawab seorang anak berbeda ketika dia berada di rumah dan ketika berada di sekolah. Itu semua tergantung kewajiban yang harus mereka lakukan. Lalu jika seorang anak sudah beranjak dewasa, sudah bukan tanggung jawab kedua orangtua mereka lagi tetapi dia sendiri yang memiliki tanggung jawab untuk mejnjaga diri sendiri.
Janganlah kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Karena sebuah pertanggungjawaban itu mencerminkan kualitas dari diri kita sendiri. Jadi kita harus benar-benar mempertanggungjawabkan apapun yang telah kita perbuat, karena sebuah tanggung jawab itu bukan hanya menyangkut kita saja, tetapi terkadang juga menyangkut orang lain.
Manusia dan Pandangan Hidup
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu ia menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Kita jika ingin menjadi orang yang sukses, harus memiliki pandangan hidup terlebih dahulu sebagai langkah awal. Diibaratkan pandangan hidup itu adalah sebuah pondasi pada bangunan. Jika kita ingin membuat bangunan setinggi mungkin, kita harus membuat pondasi sedalam dan sekuat mungkin di dalam tanah agar kelak jika terjadi sesuatu seperti badai, gempa, atau gangguan-gangguan lainnya, bangunan itu tetap kokoh berdiri tanpa goyah sedikitpun. Begitu pula dengan manusia, jika kita memiliki cita-cita yang tinggi, kita harus memiliki pandangan hidup sebagai pondasi di dalam diri kita. Kita harus yakinkan diri kita bahwa kita bisa mencapainya. Sebab sekuat apapun usaha kita untuk mencapainya, jika pondasi kita tidak kuat maka jika ada sedikit gangguan pun yang datang maka kita akan mudah goyah.
Pikiran yang positif juga akan membersihkan pikiran dari kekusutan yang tidak perlu dan membawa kta kepada pandangan hidup yang lebih baik. Pandangan hidup yang baik bisa kita jadikan untuk pegangan hidup dalam menjalani perjuangan hidup ini.
Di sisi lain, di jaman sekarang ini kita harus memiliki pandangan hidup yang luas agar kita bisa bergaul dengan masyarakat dunia. Jika pandangan hidup kita ini sempit, maka kita akan tertinggal dan tidak ada kemajuan.
Tingkat kedewasaan seseorang bukanlah dilihat dari umur mereka. Tapi kenalilah pandangan hidup orang tersebut. Maka disana kita sudah bisa melihat sedewasa apa orang itu dalam menyikapi hidup. Begitu pula dengan mereka yang berintelek. Semakin bagus pandangan hidupnya semakin tinggi pula intelektualitas orang tersebut.
Kita jika ingin menjadi orang yang sukses, harus memiliki pandangan hidup terlebih dahulu sebagai langkah awal. Diibaratkan pandangan hidup itu adalah sebuah pondasi pada bangunan. Jika kita ingin membuat bangunan setinggi mungkin, kita harus membuat pondasi sedalam dan sekuat mungkin di dalam tanah agar kelak jika terjadi sesuatu seperti badai, gempa, atau gangguan-gangguan lainnya, bangunan itu tetap kokoh berdiri tanpa goyah sedikitpun. Begitu pula dengan manusia, jika kita memiliki cita-cita yang tinggi, kita harus memiliki pandangan hidup sebagai pondasi di dalam diri kita. Kita harus yakinkan diri kita bahwa kita bisa mencapainya. Sebab sekuat apapun usaha kita untuk mencapainya, jika pondasi kita tidak kuat maka jika ada sedikit gangguan pun yang datang maka kita akan mudah goyah.
Pikiran yang positif juga akan membersihkan pikiran dari kekusutan yang tidak perlu dan membawa kta kepada pandangan hidup yang lebih baik. Pandangan hidup yang baik bisa kita jadikan untuk pegangan hidup dalam menjalani perjuangan hidup ini.
Di sisi lain, di jaman sekarang ini kita harus memiliki pandangan hidup yang luas agar kita bisa bergaul dengan masyarakat dunia. Jika pandangan hidup kita ini sempit, maka kita akan tertinggal dan tidak ada kemajuan.
Tingkat kedewasaan seseorang bukanlah dilihat dari umur mereka. Tapi kenalilah pandangan hidup orang tersebut. Maka disana kita sudah bisa melihat sedewasa apa orang itu dalam menyikapi hidup. Begitu pula dengan mereka yang berintelek. Semakin bagus pandangan hidupnya semakin tinggi pula intelektualitas orang tersebut.
Manusia dan Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran".
Keadilan pada hakikatnya adalah memperlakukan seseorang atau pihak lain sesuai dengan haknya. Yang menjadi hak setiap orang adalah diakuai dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajibannya, tanpa membedakan suku, keurunan, dan agamanya. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil”.
Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
Lalu apa hubungannya Manusia dan Keadilan?
Kita sebagai manusia harus bersikap adil pada siapapun sesuai dengan hak yang berhak mereka dapatkan. Tidak peduli siapa mereka dan dari kalangan mana, mereka berasal.
Memang seadil apapun manusia, tak akan pernah bisa seadil Sang Maha Pencipta. Kadang saat kita merasa sudah besikap adil, ada saja beberapa kalangan yang masih menganggap kita belum adil.
Begitu pula dengan ketidakadilan yang sedang marak di negara kita ini. Bayangkan saja, seorang kakek-kakek yang mengambil coklat bisa mendapat hukuman yang lebih berat daripada beliau-beliau yang terhormat yang memakan uang rakyat? Dimana letak keadilannya?
Banyak yang bilang ketidakadilan bisa dilawan dan dihukum. Tapi bagaimana jadinya jika hukumnya saja sudah bisa dibeli oleh mereka yang memiliki uang? Hukum di Indonesia sudah karut marut. Sekarang mereka membela yang bayar, bukan yang benar.
Mungkin mereka yang merugikan dan yang dirugikan saat ini hanya merasakan efek sementara. Tapi sesungguhya suatu saat nanti akan datang masa dimana kita akan diadili seadil-adilnya yang dihakimi oleh Sang Maha Pengadil dimana kita akan dibalas perbuatan apa saja yang telah kita perbuat selama didunia.
Referensi : Wikipedia
Keadilan pada hakikatnya adalah memperlakukan seseorang atau pihak lain sesuai dengan haknya. Yang menjadi hak setiap orang adalah diakuai dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajibannya, tanpa membedakan suku, keurunan, dan agamanya. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil”.
Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
Lalu apa hubungannya Manusia dan Keadilan?
Kita sebagai manusia harus bersikap adil pada siapapun sesuai dengan hak yang berhak mereka dapatkan. Tidak peduli siapa mereka dan dari kalangan mana, mereka berasal.
Memang seadil apapun manusia, tak akan pernah bisa seadil Sang Maha Pencipta. Kadang saat kita merasa sudah besikap adil, ada saja beberapa kalangan yang masih menganggap kita belum adil.
Begitu pula dengan ketidakadilan yang sedang marak di negara kita ini. Bayangkan saja, seorang kakek-kakek yang mengambil coklat bisa mendapat hukuman yang lebih berat daripada beliau-beliau yang terhormat yang memakan uang rakyat? Dimana letak keadilannya?
Banyak yang bilang ketidakadilan bisa dilawan dan dihukum. Tapi bagaimana jadinya jika hukumnya saja sudah bisa dibeli oleh mereka yang memiliki uang? Hukum di Indonesia sudah karut marut. Sekarang mereka membela yang bayar, bukan yang benar.
Mungkin mereka yang merugikan dan yang dirugikan saat ini hanya merasakan efek sementara. Tapi sesungguhya suatu saat nanti akan datang masa dimana kita akan diadili seadil-adilnya yang dihakimi oleh Sang Maha Pengadil dimana kita akan dibalas perbuatan apa saja yang telah kita perbuat selama didunia.
Referensi : Wikipedia
Miris dengan Pendidikan di Negara ini
Sabtu, 14 April 2012
Apa yang ada di pikiran anda jika melihat materi pelajaran anak SD jaman sekarang seperti ini?
Apa jadinya mereka di masa depan jika materi anak kelas dua SD saja seperti ini? Jujur saya kaget membacanya. Bacaan ini terlalu mengerikan untuk dipahami dan dicerna anak seusia itu. Alur ceritanya seperti sinetron-sinetron tidak bermutu yang sering tayang di televisi saat ini. Ataukah ini termasuk ke strategi pasar mereka? Jika iya ini dijadikan sebuah bisnis atau dengan tujuan tertentu apapun. Sungguh tidak berkeperimanusiaan mereka yang rela mengorbankan pendidikan anak bangsa ini.
Bagaimana pendapat kalian?
Apa jadinya mereka di masa depan jika materi anak kelas dua SD saja seperti ini? Jujur saya kaget membacanya. Bacaan ini terlalu mengerikan untuk dipahami dan dicerna anak seusia itu. Alur ceritanya seperti sinetron-sinetron tidak bermutu yang sering tayang di televisi saat ini. Ataukah ini termasuk ke strategi pasar mereka? Jika iya ini dijadikan sebuah bisnis atau dengan tujuan tertentu apapun. Sungguh tidak berkeperimanusiaan mereka yang rela mengorbankan pendidikan anak bangsa ini.
Bagaimana pendapat kalian?
Manusia dan Keindahan/Estetik
Untuk tugas tentang Manusia dan Keindahan/Estetik ini saya akan mengarang sebuah puisi tentang salah satu keindahan di alam ini, yaitu senja. Mengapa senja? Karena saya adalah salah seorang penikmat senja dan bagi saya senja itu sangat luar biasa indahnya.
Senja
oleh : yeddy julianto
Senja...
Aku adalah penikmat senja yang kesekian di planet ini
Ketika langit mulai berwarna jingga biru kelabu
Diantara jutaan umat yang ikut menyaksikan
Disitulah aku berada
Senja...
Kau lebih indah dibanding fajar
Kau pertanda bahwa hari telah usai
Hari yang melelahkan ini telah usai
Dan kau mengantarkanku ke gerbang kegelapan malam
Senja...
Senja itu jingga
Senja itu biru
Senja itu kelabu
Apapun lagi warnamu, kau tetap indah dimataku
Senja...
Mengapa warnamu begitu elok
Tak peduli kau menampilkan warna apa bagiku
Yang melukismu di ufuk langit tiada tandingan
Berterimakasihlah kepada Sang Maha Pelukis
Senja...
Bila hari ini kau tidak muncul
Hatiku akan berubah kelabu, tanpa jingga
Seperti awan mendung ini
Yang siap menumpahkan isinya
Senja...
Aku ingin menikmatimu bersamanya
Bersama kalian
Bersama mereka
Disuatu tempat yang belum pernah ada di dunia ini
Senja
oleh : yeddy julianto
Senja...
Aku adalah penikmat senja yang kesekian di planet ini
Ketika langit mulai berwarna jingga biru kelabu
Diantara jutaan umat yang ikut menyaksikan
Disitulah aku berada
Senja...
Kau lebih indah dibanding fajar
Kau pertanda bahwa hari telah usai
Hari yang melelahkan ini telah usai
Dan kau mengantarkanku ke gerbang kegelapan malam
Senja...
Senja itu jingga
Senja itu biru
Senja itu kelabu
Apapun lagi warnamu, kau tetap indah dimataku
Senja...
Mengapa warnamu begitu elok
Tak peduli kau menampilkan warna apa bagiku
Yang melukismu di ufuk langit tiada tandingan
Berterimakasihlah kepada Sang Maha Pelukis
Senja...
Bila hari ini kau tidak muncul
Hatiku akan berubah kelabu, tanpa jingga
Seperti awan mendung ini
Yang siap menumpahkan isinya
Senja...
Aku ingin menikmatimu bersamanya
Bersama kalian
Bersama mereka
Disuatu tempat yang belum pernah ada di dunia ini
Manusia dan Penderitaan
Ada kalanya manusia sedang berada di fase kebahagiaan, dan ada kalanya berada di fase sebaliknya yaitu fase penderitaan.
Terkadang, untuk mencapai suatu kebahagiaan, manusia harus menjalani penderitaan terlebih dahulu. Itu seolah sebagai syarat mutlak yang harus dilalui. Jika tidak pandai melaluinya, jangan mengeluh jika harus lebih lama lagi mengalami penderitaan.
Saya akan memberikan contoh sederhana untuk kasus 'menderita terlebih dahulu demi mencapai kebahagiaan/kesuksesan kelak'. Misalnya ada seorang siswa SMA yang sebentar lagi akan menghadapi UN dan SNMPTN. Mereka diharuskan belajar akan bisa lulus UN dan lolos SNMPTN. Dan bagi sebagian dari mereka, belajar rutin itu bisa dianggap sebagai penderitaan karena jadwal bermain, hangout, nongkrong, berkumpul bersama teman, dan waktu untuk melakukan hobby mereka bisa tersita hanya dengan fokus belajar. Dan jika mereka bisa melewati penderitaan itu dengan baik, mereka bisa lulus UN dan lolos SNMPTN nanti. Mereka kelak bisa berbahagia di akhirnya. Berbeda dengan mereka yang tidak belajar saat akan menghadapi UN/SNMPTN. Mereka bisa berbahagia bermain lebih banyak tapi akhirnya mereka dinyatakan tidak lulus. Pilih mana, bahagia di akhir dengan melalui sebuah penderitaan atau menderita di akhir karena terlalu bersenang-senang? Semua orang pasti menginginkan semua indah pada waktunya bukan? A nice happy ending story....
Penderitaan juga bisa merupakan sebuah ujian dari Yang Maha Kuasa. Sejauh mana kita bisa melewati ujian tersebut dan sesabar apa kita menjalaninnya. Mungkin Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih indah di depan sana untuk kita. Tuhan itu Maha Adil. Tuhan tidak mungkin memberikan penderitaan tanpa alasan dan sebab selain untuk menjadikan diri manusia itu menjadi lebih baik lagi.
Jangan pernah merasa kita adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Karena setiap orang memiliki penderitaan masing-masing yang harus mereka rasakan.
Tidak ada manusia yang seumur hidupnya menderita. Yang ada hanyalah mereka yang menjatuhkan diri terlalu dalam dan tidak mau bangkit lagi karenanya.
Terkadang, untuk mencapai suatu kebahagiaan, manusia harus menjalani penderitaan terlebih dahulu. Itu seolah sebagai syarat mutlak yang harus dilalui. Jika tidak pandai melaluinya, jangan mengeluh jika harus lebih lama lagi mengalami penderitaan.
Saya akan memberikan contoh sederhana untuk kasus 'menderita terlebih dahulu demi mencapai kebahagiaan/kesuksesan kelak'. Misalnya ada seorang siswa SMA yang sebentar lagi akan menghadapi UN dan SNMPTN. Mereka diharuskan belajar akan bisa lulus UN dan lolos SNMPTN. Dan bagi sebagian dari mereka, belajar rutin itu bisa dianggap sebagai penderitaan karena jadwal bermain, hangout, nongkrong, berkumpul bersama teman, dan waktu untuk melakukan hobby mereka bisa tersita hanya dengan fokus belajar. Dan jika mereka bisa melewati penderitaan itu dengan baik, mereka bisa lulus UN dan lolos SNMPTN nanti. Mereka kelak bisa berbahagia di akhirnya. Berbeda dengan mereka yang tidak belajar saat akan menghadapi UN/SNMPTN. Mereka bisa berbahagia bermain lebih banyak tapi akhirnya mereka dinyatakan tidak lulus. Pilih mana, bahagia di akhir dengan melalui sebuah penderitaan atau menderita di akhir karena terlalu bersenang-senang? Semua orang pasti menginginkan semua indah pada waktunya bukan? A nice happy ending story....
Penderitaan juga bisa merupakan sebuah ujian dari Yang Maha Kuasa. Sejauh mana kita bisa melewati ujian tersebut dan sesabar apa kita menjalaninnya. Mungkin Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih indah di depan sana untuk kita. Tuhan itu Maha Adil. Tuhan tidak mungkin memberikan penderitaan tanpa alasan dan sebab selain untuk menjadikan diri manusia itu menjadi lebih baik lagi.
Jangan pernah merasa kita adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Karena setiap orang memiliki penderitaan masing-masing yang harus mereka rasakan.
Tidak ada manusia yang seumur hidupnya menderita. Yang ada hanyalah mereka yang menjatuhkan diri terlalu dalam dan tidak mau bangkit lagi karenanya.
Manusia dan Cinta Kasih
Jumat, 13 April 2012
Manusia dan cinta kasih.........
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki cinta dan kasih, tak terkecuali bagi mereka yang sudah 'divonis' sebagai manusia-manusia jahat sekalipun.
Cinta dan kasih sudah kental melekat pada setiap manusia bahkan ketika mereka masih berada di alam rahim. Saat masih disana mereka sudah mendapat cinta kasih dari seorang ibu yang susah payah menjaga kita agar bertahan hidup sampai kita terlahir ke semesta ini.
Dalam proses beranjak dewasa kita sudah melewati masa-masa balita, anak-anak dan remaja/pubertas. Bukankah dalam melewati semua itu cinta dan kasih orangtua sangat berarti untuk kita? Mereka setia menjaga kita dari bahaya, mengkhawatirkan kita, dan membesarkan kita dengan penuh pengorbanan. Saya rasa, tidak ada cinta kasih yang sempurna selain cinta kasih dari orang tua, selain cinta kasih dari Sang Maha Pencipta tentunya. Karena cinta kasih dari-Nya tak terbatas, tak cukup digambarkan hanya satu atau dua halaman blog saja.
Begitu pula dengan cinta kasih yang kita berikan pada teman-teman maupun sahabat kita. Mungkin cinta kasih yang kita berikan pada teman biasa hanya 'seala kadarnya'. Tapi, berbeda cerita untuk mereka para sahabat. Walaupun tak terucap, kadang kita merasakan hangatnya cinta kasih dari mereka. Mereka yang telah memilih kita untuk menjadi sahabat. Ketika mereka selalu ada disaat kita membutuhkan, teman bercerita tanpa rasa canggung, pendengar sekaligus penasehat yang jenius. Bahkan sebagian manusia ada yang menganggap sahabat lebih nyaman dibanding keluarga.
Bagaimana dengan kekasih? Untuk soal ini tidak perlu ditanya lagi. Bukankah setiap malam sebelum kalian memejamkan mata, kalian saling mengucap cinta kasih walaupun berada di dua tempat berbeda. Jika sedang jauh, bukankah cinta kasih kalian membuahkan rindu yang tak biasa?
Atau saat dia masih berstatus calon kekasih, bukankah cinta kasih itu berperan sebagai janji-janji untuk saling mencintai dan menyayangi? Terkadang sebagian manusia lainnya berasumsi cinta kasih yang sebenarnya adalah cinta kasih pada seorang kekasih yang belum tentu akan bersama untuk selamanya sehingga tidak sedikit yang merelakan segalanya demi embel-embel cinta kasih tersebut.
Di awal saya sudah mengatakan cinta kasih itu sudah tertanam di setiap manusia di bumi ini, tak terkecuali orang terjahat sekalipun. Jika ada pertanyaan 'apakah benar orang-orang jahat itu masih memiliki cinta kasih disaat mereka sering membuat orang di sekitarnya merugi dan menderita?' Tentu jawabannya 'ya'. Bukankah yang mereka lakukan itu juga didorong faktor cinta kasih juga? Misalnya mereka melakukan kejahatan karena terpaksa demi memberi makan keluarganya atau sesuatu yang lain yang sangat kental dengan cinta kasih. Hanya saja mereka melakukan dengan cara yang salah.
Jadi, cintailah dan kasihilah orang-orang disekitar kita. Baik mereka yang menghargai kita maupun mereka yang membenci. Bukankah hidup akan menjadi lebih indah bila kita saling berbalas cinta kasih? :)
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki cinta dan kasih, tak terkecuali bagi mereka yang sudah 'divonis' sebagai manusia-manusia jahat sekalipun.
Cinta dan kasih sudah kental melekat pada setiap manusia bahkan ketika mereka masih berada di alam rahim. Saat masih disana mereka sudah mendapat cinta kasih dari seorang ibu yang susah payah menjaga kita agar bertahan hidup sampai kita terlahir ke semesta ini.
Dalam proses beranjak dewasa kita sudah melewati masa-masa balita, anak-anak dan remaja/pubertas. Bukankah dalam melewati semua itu cinta dan kasih orangtua sangat berarti untuk kita? Mereka setia menjaga kita dari bahaya, mengkhawatirkan kita, dan membesarkan kita dengan penuh pengorbanan. Saya rasa, tidak ada cinta kasih yang sempurna selain cinta kasih dari orang tua, selain cinta kasih dari Sang Maha Pencipta tentunya. Karena cinta kasih dari-Nya tak terbatas, tak cukup digambarkan hanya satu atau dua halaman blog saja.
Begitu pula dengan cinta kasih yang kita berikan pada teman-teman maupun sahabat kita. Mungkin cinta kasih yang kita berikan pada teman biasa hanya 'seala kadarnya'. Tapi, berbeda cerita untuk mereka para sahabat. Walaupun tak terucap, kadang kita merasakan hangatnya cinta kasih dari mereka. Mereka yang telah memilih kita untuk menjadi sahabat. Ketika mereka selalu ada disaat kita membutuhkan, teman bercerita tanpa rasa canggung, pendengar sekaligus penasehat yang jenius. Bahkan sebagian manusia ada yang menganggap sahabat lebih nyaman dibanding keluarga.
Bagaimana dengan kekasih? Untuk soal ini tidak perlu ditanya lagi. Bukankah setiap malam sebelum kalian memejamkan mata, kalian saling mengucap cinta kasih walaupun berada di dua tempat berbeda. Jika sedang jauh, bukankah cinta kasih kalian membuahkan rindu yang tak biasa?
Atau saat dia masih berstatus calon kekasih, bukankah cinta kasih itu berperan sebagai janji-janji untuk saling mencintai dan menyayangi? Terkadang sebagian manusia lainnya berasumsi cinta kasih yang sebenarnya adalah cinta kasih pada seorang kekasih yang belum tentu akan bersama untuk selamanya sehingga tidak sedikit yang merelakan segalanya demi embel-embel cinta kasih tersebut.
Di awal saya sudah mengatakan cinta kasih itu sudah tertanam di setiap manusia di bumi ini, tak terkecuali orang terjahat sekalipun. Jika ada pertanyaan 'apakah benar orang-orang jahat itu masih memiliki cinta kasih disaat mereka sering membuat orang di sekitarnya merugi dan menderita?' Tentu jawabannya 'ya'. Bukankah yang mereka lakukan itu juga didorong faktor cinta kasih juga? Misalnya mereka melakukan kejahatan karena terpaksa demi memberi makan keluarganya atau sesuatu yang lain yang sangat kental dengan cinta kasih. Hanya saja mereka melakukan dengan cara yang salah.
Jadi, cintailah dan kasihilah orang-orang disekitar kita. Baik mereka yang menghargai kita maupun mereka yang membenci. Bukankah hidup akan menjadi lebih indah bila kita saling berbalas cinta kasih? :)
Langganan:
Postingan (Atom)




